Menggergaji Urat Tengkorak
Jujur katamu mengatakan kau paling hebat di antara para penyair
dengan kata yang sempat tertipu bahwa kau pernah berjaya di tahun itu!
Mereka yang tak kenalmu berbisik : oh kita harus menghormatinya,
karena tulisannya telah menari jaipong di per-koranan kampung dan perantau
juga telah menjadi pandeka di halaman depan tabloid
yang belum tentu semua orang membacanya.
ah.. bisa saja koran cabiak terpaksa di baca sebagai kawan
dalam menunggu tangisan langit berhenti.
Semuanya telah menjulurkan anak tuannya dalam rahang sempit itu
sebab dari muara suara perut, suara dada, suara kepala.
dan.., ah..tunggu dulu , bukan suara berbisik yang mengeluarkan aroma gurah isi perut:
muntah seperti aroma air bah yang di kincokan dengan adukan yang sempat ter-eramkan
kau tunjuk bahwa dengan tengkorakmu yang selalu mendongak
akan bisa menaklukan semua urat yang telah lama menunduk?
Sedangkan urat tengkorakmu telah lama tergorok?
Studio Safasindo 8/3/2017
catatan:
pandeka ; Pendekar
cabiak : Sobek
kincokan : di campur adukkan
Nyanyian Bundo
matanya semakin sembab,
karena air mata kerinduan itu telah tergadaikan
oleh harga diri perantau di negeri seberang,
semenjak kepergian jatung hatinya
untuk menyulam emas di negeri
yang masih kabur dalam pikiran bundo.
jenjang di rumah panggung itu,
tak mampu menahan beratnya nyanyian bundo
yang selalu berbisik di sisi kanan pagar pembatas
; kapan kau pulang wahai kerinduanku,
pangkuan ini tak bergerak lagi,
langkah yang sempat mengejarmu telah patah.
oh angin sampaikanlah bisikan hati ini
agar kebahagiaan itu pulang ke pangkuan bundo
walau tak bertumbuh lagi cinta dalam hati, tapi
batang ubi akan tetap hidup meski di tanah gersang.
pulanglah jantung hatiku,
haruskah bundo menantang matahari
agar bisa menunjukkan bahwa ada bayanganmu
yang sempat tersinarkan oleh cahayanya
sewaktu bundo memalingkan punggung payung
untuk sembunyi dalam kelukaan.
Safasindo, 10 Desember 2015
Daun Kawa
Tak pakai gula Da tiap ku pesan
sepulang dari rumah keduaku di Bukittinggi,
bukan rumah tetuaku, juga bukan rumah hasil wasiat buyutku,
namun rumah wanita tua yang menawari asinya
untuk ku sambung menjadi tali-tirai yang panjang sebalit pinggang.
Tiap minggu ku melarikan panas dan menjemput dingin dari Payakumbuh.
bukan melarikan bukit yang singgah meminjamkan dingin di kedua sudut tulang sulbiku,
rasa pahit khas aroma asap
disetiap sedukan membuat keingintahuanku pada muara
di atas gunung yang bergandenganan tangan antara Singgalang dan Merapi
mengingatkan ku atas perjalanan cinta Siti Manggopoh
untuk menceritakan ada semut yang bisa berdiplomasi
di antara dua lobang yang tak pernah tersinggahi lagi
ku masih duduk di perempatan empat kaki
dengan pandangan yang menyehatkan pupilku sewaktu dulu
rabun sepintas oleh kalimpanan,
si Uda bertanya apakah pakai gorengan yang tersaji di pinggan rotan
yang sudah ditali temali menampung tegang,
boleh tambah lado kutu yang bisa menggelitik lidah dengan biji menyentrum.
Kawah daun yang terhidang di telaga dahagaku mengurai cerita yang sempat terduduki
di bangku para mengemis tentang aku seorang pelukis rumah tetua,
yang sebentar lagi jemari yang menggambarkan
sosok diranah bundo kapocong laksana kucing yang menjilati hidungnya,
entah untuk bersih diri ataupun mandi,
atau hanya menghapus identitas ikan asin yang sempat terkunyah
dibawah tudung restoran di sudut mataku.
Talawi, 3 Juni 2015
Tasulo
Jika duri itu bisa menjadi tempat siangan daging jadi bara
yang membara di dua tiang dalam luka, parah dan habis
tiba-tiba dua tulang yang melikat di paruh baya menirukan luka
yang sempat mengaga yang telah lama bermandikan daun betadin
dikunyah kunyah menjadi sugi, berwarna di rongga giginya.
Setiap langkah yang masih berbibit dalam tanah
berakar menjelajahi se-singgahan ke ranah yang lebih melunak
merasa belum kokoh, di situlah tancapan luka yang di ukur dari kurun waktu yang sangat singkatbertuan dan ber-istana dalam sekejap.
Di cari-cari dengan mata yang masih telanjang
tanpa gaun, juga tanpa yukensi.
semuanya transparan, namun masih berbayang
di sebuah jemari telunjukyang mendehem di atas tiang dalam luka itu.
Berbaliklah kawan, jelajahi langkah tadi,
napak tilaslah dengan langkah yang masih sama
langkah yang sempat terhenti sekejap.
saat kau masih mengatakan duri itu tak akan pernah bengkok,
walau kadangkala, bentuknya lebih besar di bandingkan ampu kaki.
Jika duri itu bisa menjadi siangan daging jadi bara,
maka segala ego yang bersandi bersemayam
kian rapuh menyandera fikiran
untuk mengatakan bahwa duri dalam daging itu sangat menyakitkan
sehingga segala tingkah laku jiwa terkalahkan sampai
duri tersebut bisa bebas tak tertahan dalam daging.
Talawi, 9 Juni 2015
Catatan:
Tasulo adalah ketika ada duri yang menusuk kedaging, tasulo merupakan ungkapan bahasa daerah minang
Lobang Yang Tertinggal
Hari jadi kemerdekaan telah lama melambaikan tangannya pada bumi pertiwi ini, lambaian yang meninggalkan nasehat tentang peninggalan tapak tuan di langit yang banyak menyerakkan darah di langit-langit tak beratap rumbio. lebih kurang tujuh puluh tahun, tangisan bumi elang ini meneriaki kemerdekaan tanpa ada lagi sayatan silet yang melukis di wajah tuan.
Tujuh puluh tahun sudah wajah langit berubah dan di paksa untuk bertukar rupa menjadi sisik ikan pada lukisan awan. Dan masih meninggalkan tangisan pilu yang se-akan telah di hapus oleh kecanggihan teknologi, pada ujungnya akan memperbudak kebangsaan lewat peninggalan yang di jaga ketat hanya untuk mencarai sebuah;Kenangan.
Lobang itu hanya tinggal sebuah pertanda, tanda gauman yang menyesakkan dada di setiap kali ada mayat ter-bujur di rumah gadang. Lobang yang menembus Ngarai Sianok dan bertepuk tangan di janjang Seribu. Meninggalkan surat cinta pada tetua agar bisa di terjemahkan kepada si Buyung, akan perjuangan yang mesti diraih kembali agar kau mampu menerangi dengan ilmumu lobang Japang yang berkelok sampai di telapak kaki Jam Gadang.
Disana pula ada seberkas cinta yang tersapu oleh air mata, yang mengatakan bahwa ada cinta yang tak harus di jawab dari segelintir luka di zaman itu. Hanya saja jawaban cinta yang harus terkikis di antara serdadu dan musuh di kala itu.
Sorak-sorai bercampur tangis telah tenggelam di samudra angin Paralayang senja, dan begitu juga tetua melukiskan lagi kesedihan hatinya di air keruh yang hanya meninggalkan telapak kaki dari Jepang dan Lobang sebagai peniti dan rantai makanan para makluk yang kasat mata.
Di lobang inilah segala pekikan, penyiksaan terulang terkenang oleh para pejuang veteran akan kisah kelam yang harus di terangkan dengan petramak. Itulah lobang Jepang yang menghubungkan kegamangan dan ketidak berdayaan para tetua di zaman itu.
Kini lobang yang terhina itu hanya tinggal sebuah kenangan, dan gambaran penyiksaan dimana ayah, tuan, ibu dan keluarga di paksa men-tanah di terowongan yang banyak berbisik pada gelombang angin.
Studio Safasindo, 28 Oktober 2015
BATAS PANDANG
Padang mengatas ini sudah ku temukan batasnya
dimana seharusnya aku mengakhiri pandangan,
rumput ilalang, rumput sawah juga tepian mandi sapi perah,
dan juga tempatku memanggil imajinasi
agar puisi ini bernyawa seperti nyawanya mataku
melihat keindahan yang dititip kesanubariku.
disana adikku pernah dipuji oleh rumput,
agar kecantikan yang telah terpandang akan dilihat sekelumit
mereka yang merindukan mengililingi dunia.sekolah!
kau tak usah pergi jauh,
disini ada taman nostalgia di kampung susu
yang tak akan pernah membisu,
apalagi pohon jati, rambutan, pohon mangga
dan kayu manis serta angin yang berkejaran dengan burung pipit
meminta kecupan dari hati paling dalam
untuk menikmati maman surga dari belahan tanah kabupaten limapuluh kota.
Balai janggo, 10 Desember 2015
LAMANG TAPAI
berapa batang betung yang telah kau ambil di tanah pekubutan itu?
adakah kau minta permisi dulu pada jasad-jasad kaku yang meninggalkan daging
tepat kicauan rawa dekat tanah sirah ibu meratap bapak
yang melambai tangan terakhirnya dipetang kamis malam jumat.
jangan lupa sekalian hutang dulu beras ketan
juga sekilo ubi di lapau Mak Nijah
nanti akan ku olah menjadi panganan yang paling enak di Payakumbuh ini
sekalian balango turunkan dari pagu,
karena balango yang terletak di tungku terbelah dua oleh alu.
ku telah pergi melerai kepenatan, mulai dari yang bisa didengar
sampai serapah pada sampah disetiap sudut mata,
sabarlah dulu, nanti aku akan mengawinkan lamang dan tapai
supaya anak yang di kandung,
yang dibawa manjojo sekeliling mata memandang
merasakan juga apa yang di kisahkan oleh ketan
yang telah lama menaroh hati pada tapai
agar telapak yang mencium tanah dan berpayungkan hawa kodek
selalu mencintaimu.
marilah ku ajarkan kau untuk menjalankan
gerobak tungkai sebatang,
pegang erat-erat, agar kau bisa mengetahui
dimana keseimbangan cinta sang tapai pada lamang.
Jika sudah ini resep yang musti kau tahu
; peraslah kelapa dengan rasa seganmu,
agar api bisa menirukan untuk berhati-hati,
untuk merayu dengan lembut beras ketan
yang akan dimandikan dengan santan
sangailah dan bolak-balikkan
betung menghitam bukan berarti
isi didalamnya memahit rasa.
Faham sudah kau, tentang lamang tapai
menjadi panganan yang ditunggu anak nagari,
inilah yang harus kau kenang kalau dapat sampai mati.
koto baru, 10 Desember 2015
KIPANG BATIAH
sudah sepuluh tahun ini tak lagi mendengarkan dentuman meriam
pertanda matangnya olahan beras yang di kasih gula saka dari puncak lawang
bisa juga diolah dengan jagung tua yang terlebih dahulu di jemur pada
mentari yang sering memarahi awan gelap.
aku baru sadar kalau induk semangnya telah lama menutup mata
tertutup oleh kain yang di kasih bunga rampai,
yang biasanya kalau ku pulang dari rantau
selalu memegang jantung menahan suara
yang memekakan anak gendang tersebut.
kipang bareh dan kipang jaguang orang balai janggo
hanya satu petak di belakang rumah sakit ibnu sina
tak heran jika pasien selalu meminta dirawat dirumah
karena terpaksa sehat oleh suara yang meluluh lantakkan ego para sipasien.
mau dikata tak berbunyi, namun pencaharian masyarakat
terpaku pada buktinya dentuman tadi.
suara yang menjadi saksi kesunyian Payakumbuh
akan orang dan kendaraan, disana juga ada bukti sejarah
kipang batiah kepunyaan balai janggo menjadi bekalan perantau
untuk memeluk kampung diranau sana
sekarang hanya satu petak dari sepuluh petak yang masih beroperasi
menjalankan wasiat para induk semang kepada anak-kemenakan
dengan tujuan ciri-ciri jajanan kampung tidak akan pernah mati
walau zaman sering memaksa untuk meninggalkan yang lama-lama.
dan kini suara dentuman itu tak sekuat bom atom adik kemenakan hirosima,
namun suaranya di tembakkan ketanah, sehingga yang terdengar hanya suara
yang persis mirip dengan kentut anak bayi. tapi aku sangatlah rindu
akan suara yang memekakan telinga, walau telah sering buah bibir telah masak
bahkan telah dipetik hasilnya oleh cucu induk semang perihal pertahankan kipang batiah.
balai janggo, 10 Desember 2016
Angka Terakhir
Sudah kuhitung dengan sempoa, sembilan ratus sebelas ditambah tiga juta dibagi dua dikali tujuh, tidak kutemukan hasil nyata yang menari di atas jemari lentik.
Jemari yang dirayu dilentik-lentikan, memaksa untuk menggepalkan setengah menelusuri lembah-lembah mungil yang menghasilkan kekacauan pada urat syaraf.
Ah.., itu bukanlah gangguan yang dititipkan dipendopo, menyelinap keringat diantara lubang-lubang yang menganga di dataran air yang menjingkrak untuk memeluk bulan.
Lelaki berjas putih kembali menyuruh syaraf untuk mengulang penambahan, pembagian dan ditambah juga dengan pengalian serta pengakaran, karena hasil yang ditarikan sempoa tak kunjung menghasilkan bilangan prima serta desimal.
Mencermati angka yang tersembunyi dari hitungan semula, telah berbantahan bahwa mata pasti keliru menemukan angka-angka yang tak ada dalam kalkulator untuk menterjemahkan angka terakhir di balik pugarnya bilangan maksimal.
(Studio Safasindo, 16 Oktober 2016)

Post a Comment