Kannov

GURU MENULIS: SETIAP ANAK ADALAH JUARA SEJATI

January 06, 2026 Kannov Publishing

Oleh : Vivia Wirna, S.Pt

SD Negeri 50 Payakumbuh

 

Seringkali kita terjebak dengan menghitung bintang hanya dari terangnya cahaya angka di atas kertas. Kita terbiasa menyematkan mahkota “juara” hanya kepada mereka yang jemari nya paling lincah merangkai rumus, atau yang lisannya paling fasih mengeja teori. Padahal, jika kita sudi menunduk sejenak ke kedalaman jiwa setiap anak, kita akan menemukan bahwa setiap dari mereka adalah pemenang dalam perlombaan.

Ujung semester menjadi hari yang paling sunyi bagi sebagian anak. Di tengah riuhnya tepuk tangan untuk penyandang gelar juara, ada mata-mata kecil meredup, merasa diri mereka hanyalah pelengkap di daftar hadir kelas. Namun, di dalam kelas yang saya ampu, saya ingin narasi itu berubah. Saya ingin setiap anak pulang dengan perasaan bahwa mereka adalah “Bintang”.

Sejatinya pendidikan bukanlah sebuah perlombaan lari di lintasan yang sama. Setiap anak memiliki garis finishnya masing-masing. Jika kita hanya menggunakan angka matematika sebagai satu-satunya tolok ukur, kita sedang memaksa seluruh penghuni semesta untuk menjadi seragam. Padahal keindahan dunia terletak pada keberagamannya.

Kecerdasan akademik mungkin membawa seseorang menuju karir yang gemilang. Namun karakterlah yang akan menentukan bagaimana ia memperlakukan sesama. Inilah prestasi yang sesungguhnya. Yakni sebuah kemenangan jiwa yang sering kali tak terdeteksi oleh radar ujian nasional.

Sebuah perayaan jiwa pagi itu, suasana pembagian rapor menjadi berbeda. Di atas meja saya, selain buku laporan resmi, berjajar rapi piagam-piagam sederhana yang saya beri nama “Taburan Bintang”. Saya memanggil mereka satu persatu bukan berdasarkan urutan nilai terbesar ke terkecil, melainkan berdasarkan keunikan cahaya yang mereka pancarkan selama satu semester.

Saat saya menyerahkan piagam Bintang Kejujuran kepada seorang anak yang pernah berani mengakui kesalahannya, atau Bintang Kesabaran kepada anak yang selalu tenang di tengah keriuhan, saya melihat sesuatu yang luar biasa. Ada binar mata yang tiba-tiba menyala. Ketika si anak pendiam menerima Bintang Senyum Terbaik atau Bintang Peduli, bahunya yang semula lunglai perlahan tegak.

Taburan bintang itu menjadi saksi bahwa setiap sudut karakter adalah prestasi :

Bintang Petualang Tangguh untuk dia yang tak kenal menyerah.

Bintang Penyambut Terhangat untuk jiwa yang selalu menyapa dunia dengan keramahan.

Bintang Seniman Luar Biasa dan Bintang Imajinasi Kuat untuk mereka yang berani berinovasi.

Hingga Bintang Perilaku Terbaik yang menjadi jangkar bagi keteduhan kelas.

Reaksi yang menggetarkan hati saat momen yang paling menyentuh terjadi. Ketika seorang anak memegang piagamnya dengan tangan gemetar. Ia berbisik lirih, “Ibu, benar ini untuk saya bu? Kalimat itu menghujam jantung saya. Ternyata, selama ini banyak anak yang merasa tertinggal dari temannya hanya karena kita tidak pernah merayakan kebaikan hati mereka, kerapian mereka, atau keberanian mereka untuk jujur.

Mereka memeluk piagam itu layaknya memeluk harta karun yang paling berharga adalah puncak dari segala pencapaian saya sebagai pendidik. Di sana air mata haru orang tua pun pecah. Mereka menyadari bahwa anak mereka tidak “tertinggal”, melainkan sedang tumbuh dengan kekuatan karakter yang  tak bisa dibeli dengan nilai 100 di atas kertas ujian.

 Pendidikan yang memanusiakan manusia adalah pendidikan yang berani melihat kedalaman hati. Mari kita berhenti melabeli anak-anak kita dengan kata “gagal”. Setiap anak yang berangkat ke sekolah dengan ketulusan, yang mampu berempati, dan yang memegang teguh kejujuran, adalah juara sejati.

Pada akhirnya, piala-piala logam bisa berkarat dan usang dimakan waktu. Namun, rasa percaya diri dan penghargaan terhadap karakter yang kita tanamkan hari ini akan menjadi kompas bagi mereka untuk mengarungi samudera kehidupan. Karena di kelas saya, dan seharusnya di setiap kelas di negeri ini, tidak ada bintang yang dibiarkan padam. Mereka semua adalah pemenang.

Bagikan Artikel Ini

Rekomendasi

Terpopuler