Kannov

NOVA MENULIS: RIVA DEL GARDA SUNGGUH MEMESONA

January 10, 2026 Kannov Publishing

              Malam ini ku coba membuka kembali catatan impianku yang telah lama ku tulis 10 tahun yang lalu, catatan yang sering ku renovasikan dengan impian-impian yang baru. Telah banyak impian yang ku ceklis sebagai tanda aku telah selesai meraih impian itu, hanya saja bagaimana aku selalu disiplin dalam mempertahankan impian ini. Impian yang pernah ku terjemahkan dengan lukisan tentang kerinduanku akan hadir di sana yaitu tentang cerita di balik lukisan Dermaga Riva Del Garda, lukisan yang menceritakan adanya bangunan tua, terowongan di tepi tebing, kota yang sangat terkenal dengan sebutan pegunungan Alpen. Juga lukisan bahwa aku jatuh cinta dengan negeri itu.

Sebenarnya aku tidak begitu suka dengan pertandingan dan permainan sepak bola, tapi anehnya semenjak klub sepak bola AC Milan-Italia mendunia, sampai-saampai nama AC Milan itu wara-wiri di berbagai logo; baju, gelas, spanduk, stiker dan lainnya, dengan itulah aku makin tertarik dengan kota impianku ini. Ha..ha bukan bolanya tapi kotanya.

Danau yang begitu indah yang di kombinasikan Tuhan dengan tingginya gunung serta luasnya lembah yang sangat bersih terawat. Rasa yang ku saksikan dalam peta mungilku yang aku lukis ini seakan memanjakan aku dan memanggil-manggil namaku untuk cepat sampai kesana. Begitu khas suasana yang elegan seolah-olah aku di terapi dengan aroma alam yang sangat indah, hijau, ber-udara sejuk. Lagi ku sangat teliti melihat lukisanku itu dengan keindahan danau, betapa bahagianya burung yang berlari kesana kemari, saling kejar mengejar karena udara yang dihirup terhindar dari polusi yang menyesak dada. Begitu juga dengan gunung yang menunjukkan keperkasaanya melindungi yang menatap dan hidup di kakinya, lembah yang luas menawarkan pesona menabjubkan, sungguh maha kuasanya Tuhan atas segala ciptaanya.

Terciptanya atmosfer yang begitu tenang yang mengantarkan aku pada nilai sejarah yang harus diketahui, pemandangan yang berada di bagian utara Italia dengan provinsi Tronto. Rasanya bait-bait puisi mulai dari romantis sampai kepada puisi me-motivasi tertuang seiring rasa cintaku akan ketenangan dan keramaian hati dalam kesunyian, bahkan ke alpaan pada Tuhan pun bisa tercatat langsung, agar kekhilafan tak selalu berpihak pada lobang tempat jatuh yang sama.

            Semakin ku pandang semakin kuat keinginanku untuk mendokumentasikan dan menitipkan pesan cinta yang menggebu-gebu. Apalagi aku telah membelai bibir tepian danau dengan penuh penghayatan di barengi secangkir kopi dan makanan khas Italia yang menari piring di sepanjang ketenangan air yang menyimpan padepokan dunia air; ada ikan dan seperangkat kisah yang memang tak terlihat oleh kasat mata, seperti awan yang mendekorasi di ujung pegunungan, angin sepoi-sepoi yang membagi bentangan kesejukan, serta lembah yang begitu tenangnya.

Tak puas mata memandang sehingga kursi-kursi yang telah lama berdedikasi serta telah setia pada peraduan yang perkasa di hadapanya, tak meminta sedikitpun balasan dari jiwa-jiwa yang pernah bercerita ria tentang apa yang ia pandang dan melepaskan dahaga, sesekali belaian halus juga didapatkan kursi dari tangan-tangan perindu keindahan. Terkadang kecembuaruan aroma alam dan tempias air selepas hasil gelutan kaki manusia dengan kayuhan sepeda air, membelah kenaturalan alam padaku, berbisik akan dia yang selalu setia pada apa yang ku pandang saat ini, apalagi ku mulai bersilat pada lidah agar bait-baik kata cinta bisa terlukiskan oleh dua pupilku yang indah, dan menitipkan bunga melati sebagai tanda aku benar-benar rindu berada disana, dan ku mulai lembaran baru setelah Tuhan memberangkatkan aku di tanah yang juga aku dapat berbisik pada bumi, menangis di lantai resor, dan bersenandung betapa indah, terawat dan mempesonanya alam Tuhan di kejauhan kampungku.

Pancaran sang surya yang malu-malu menampakkan cahayanya, melukiskan bayangan megahnya tebing-tebing tinggi mengingatkan aku akan indahnya tebing yang selalu ku samakan walaupun tak pernah sama dengan tebing Harau yang ada di kampungku. Panorama yang sangat indah. Ingin ku berlari sekuat tenaga menuju jalur bukit yang mempesona itu, selayaknya tamu dari kampung, dijamu, di perhatikan, dan dilayani oleh alam yang sempat ku titipkan surat cinta pada tukang pos, bahwa ada seseorang dari kampung yang selalu melukis dan berpuisi tentang negara populasi masyarakatnya yang cukup ramai.

Lagi, ku berharap pada Tuhan, dengan khusuk ku berbisik pada bumi, agar bumi dapat bergetar menyampaikan pada tanah di bumi lain, agar bisa langsung didengar oleh langit, supaya aku selalu diteduhi saat panas, sehingga ku dapat melihat bayangan diriku yang telah duduk manis di atas pesawat terbang menuju alam yang indah dalam pandangan mataku. Berjalan mengelilingi kota, ku intip lagi dalam peta kecilku yang hampir sobek ini bahwa luasnya 43 kilometer persegi, sepertiku yang suka berjalan kaki rasanya tempat ini sangatlah nyaman untuk ku telusuri, apalagi saat kakiku melangkah dapat menghitung ruasan aspal yang telah di hias dengan berbagai bentuk keramik aspal, indah dan menarik, ditambah lagi aku yang melankolis, menitipkan kasih dalam senyuman setiap mereka yang memilih berkeliling dengan odong-odong bahasa desaku, namun disana biasa disebut dengan Trenino, menjelajahi jalan-jalan sempit ditengah kota khas Eropa yang penuh dengan kisah sejarah.

Suasana yang begitu romantis, dingin, apalagi saat ku berjalan menelusuri jalanan sempit membuka kembali inspirasiku, dan menikmati suara sendal, burung berkicauan, suara lonceng, suara air dan suara lainnya, jika di jadikan satu paket sebagai musik alternatif alam, waw sungguh indah dan di tambah dengan suara jentikan jemariku, semuanya bersatu pada dalam satu kesatuan dan mencerminkan ada banyak warna-warna cinta disana.

Oh iya aku sampai lupa, kemanapun kita berwisata tentunya ada toko-toko kecil dan besar banyak menjual pernak-pernik yang biasa disebut sebagai cendramata. Nah di kota impianku ini banyak sekali pernak pernik sesuai dengan kondisi alamnya, tapi lebih dominan menjual produk pernak-pernik dari Lemon yang terkenal dengan sebutan Lemone, selain banyak menghasilkan buah Zaitun. Begitu juga banyaknya restoran, walaupun restoran Padang belum ada, ha..ha membuat aku terinspirasi untuk menambah restoran baru dengan ciri khas rumah gadang dan masakan Padang, apalagi rendang sudah di jadikan sebagai masakan ter enak didunia.

Sampai sekarang aku selalu menyempatkan diriku untuk mendokumentasikan bangunan-bangunan tua, apalagi saat aku di undang untuk mengasih materi kepenulisan keberbagai daerah di Sumatera Barat ini, sembari terus mengasah kemampuanku untuk berimajinasi lewat lukisan dan tulisan. Rasanya imajinasi liarku ingin sekali punya keinginan agar suatu saat karya-karyaku berupa sastera, karya motivasi dan inspirasi bisa di terjemahkan dalam bahasa daerah di kawasan Eropa ini, agar masyarakat setempat bisa merasakan betapa rindunya aku berada di kampung mereka.

Semakin ku memotret bangunan tua itu, terciptalah sebuah ide-ide segar yang bisa mengalihkan agar otakku tak cepat pikun, walau terkadang aku sering lupa ha..ha, menulis apa saja, semakin ku asah maka semakin bisa ku mengalahkan persaingan penulis terkenal dunia, yang jelas hari ini ku menikmati hidupku yang sekarang dan pada suatu saat dengan sangat menikmati dan terus berkarya maka aku akan di undang sebagai pembicara dalam satu kumpulan penulis dunia disana, insyaAllah harapku.

Kota yang sangat strategis letaknya dalam mengontrol perdagangan baik dari sisi utara dan selatan pada pegunungan Alpen di zaman dahulu, Riva Del Garda kota yang dirindukan bagi pecinta ketenangan dan kesejukan. Belumlah puas ku melihat dalm peta mungilku itu, ku coba mencari pada Mbah Google tentang perkembangan dan apa saja yang paling bersejarah di sana. Ternyata ada sebuah catatan penting tentang bangunan yang paling bersejarah yang belum ada dalam lukisanku, namanya Rocca yang sekarang di pergunakan sebagai Civic Museum yang didirikan tahun 1124, dulunya bangunan ini di pakai sebagai benteng pertahanan pada waktu perang Lake garda pada abad pertengahan, dengan seiring berkembanganya zaman maka fungsi benteng itu berobah menjadi museum. Museum yang tinggi perkasa yang di kelilingi oleh parit yang berisi air berdiri sejauh mata memandang, seperti memandang susunan perahu air yang di pergunakan untuk wisatawan.

Bila di kota Bukittinggi terkenal dengan jam gadangnya yang berada di pusat kota, nah di Riva Del Garda juga memiliki menara jam yang terkenal dengan Torre Apponale, menara yang menghiasi indahnya kota, apalagi disana sangat diberlakukan tepat waktu, tepat janji dan tepat pada peraturan yang berlaku. Ada dermaga Riva Del Garda, juga ada Dermaga Limone, ada penginapan yang sesuai dengan kantong kita.

Ku yakin dengan usaha yang maksimal dan terus menanbung, walaupun dalam hapap bisa di undang ke negara itu dari hasil sastera yang bisa menginspirasi banyak orang, ku akan menjadi orang pertama dalam keluargaku untuk hadir berbagi kasih di negara sepak bola itu, dengan semakin giat, selalu belajar, membaca, menulis dan menebar ilmu keberbagai pelosok Indonesia, aku yakin suatu saat karyaku akan menjadi referensi sastera di negara itu.  Negara Riva Del Garda sungguh sangat mempesona bagiku.

 

 

 

 

 Tulisan ini telah termaktub dalam buku, Di Negara itu Impianku Berlabuh (15 Penulis Nusantara) 

 

 

 



Bagikan Artikel Ini

Rekomendasi

Terpopuler