KURIKULUM MUATAN LOKAL KEMINANGKABAUAN
MATERI SUMBANG DUO BALEH
DI SMA NEGERI KOTA PAYAKUMBUH
Nova, Ulva Meri, Widya Syafitri, Darul Ilmi, Hayati, Niimmasubhani
Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek, Indonesia
STAI Darul Qur’an Payakumbuh, Indonesia
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk menelaah penerapan kurikulum muatan lokal Keminangkabauan, dengan fokus khusus pada materi Sumbang Duo Baleh, di SMA Negeri Kota Payakumbuh. Kurikulum muatan lokal ini dirancang untuk mengenalkan dan melestarikan nilai-nilai budaya Minangkabau di kalangan generasi muda, dengan Sumbang Duo Baleh sebagai salah satu elemen penting dalam budaya tersebut. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan guru, observasi langsung di kelas, serta analisis dokumen terkait. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan kurikulum muatan lokal Keminangkabauan di SMA Negeri Kota Payakumbuh dilakukan melalui metode pengajaran interaktif dan kontekstual, yang melibatkan siswa secara aktif dalam proses belajar. Materi Sumbang Duo Baleh diajarkan dengan menggabungkan cerita rakyat, permainan tradisional, dan kegiatan praktik langsung untuk meningkatkan pemahaman siswa tentang nilai-nilai etika dan norma sosial dalam budaya Minangkabau. Kesimpulannya, kurikulum muatan lokal Keminangkabauan dengan materi Sumbang Duo Baleh berhasil meningkatkan kesadaran budaya dan identitas kultural siswa, serta berkontribusi positif dalam pelestarian budaya Minangkabau.
Kata Kunci: Kurikulum Muatan Lokal, Keminangkabauan, Sumbang Duo Baleh, SMA Negeri Kota Payakumbuh, Pendidikan Budaya.
INTRODUCTION
Budaya Minangkabau, dengan kekayaan nilai dan tradisinya, merupakan salah satu warisan budaya penting di Indonesia(Malik, 2016). Di tengah kuatnya arus globalisasi, menjaga dan melestarikan budaya lokal menjadi tantangan yang signifikan. Dampak buruk dari globalisasi ini sangatlah besar. Globalisasi sangat berdampak terhadap gaya hidup generasi muda saat ini (Sutria, 2019) Krisis moral terjadi mulai dari kalangan anak - anak hingga remaja (ilham hadi, hadi purwanto, annisa miftahurrahmi, fani marsyanda, 2019). Krisis moral tersebut antara lain yaitu pergaulan bebas yang sedang trend di kalangan remaja Indonesia sekarang ini. Mereka meniru budaya barat yang pergaulannya sangat bebas, menurut mereka itu merupakan hal yang keren. Padahal hal tersebut sangat melenceng dengan budaya di Indonesia dan melanggar larangan Tuhan (Bashori, 2021). Proses menirukan budaya barat ini, telah mengakibatkan munculnya cultural shock (kegoncangan budaya) dan disfungsionalitas pada generasi muda yang umumnya itu terjadi pada pelajar dan mahasiswa. Salah satu cara efektif untuk mencapai hal ini adalah melalui pendidikan, terutama dengan mengintegrasikan nilai-nilai budaya ke dalam kurikulum sekolah. Pendidikan adalah suatu usaha yang dilaksanakan di lembaga pendidikan, baik formal, informal dan non formal dengan tujuan untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat (Thulus Gajay Syahbana et al., 2023). SMA Negeri yang ada di Kota Payakumbuh, sebagai institusi pendidikan yang berada di Sumatera Barat, memainkan peran penting dalam upaya pelestarian budaya ini. Mata pelajaran Keminangkabauan harus dipelajari kembali dalam kurikulum merdeka dengan penekanan pada nilai-nilai budaya yang ada di dalamnya.
Generasi muda akan dapat memahami dan menghargai warisan budayanya dengan mempelajari adat istiadat (Luthfianda & Sufriadi, 2024), seni, bahasa, dan tradisi masyarakat Minangkabau secara menyeluruh. Selain itu, mempelajari Keminangkabauan dapat membantu memahami lingkungan sendiri (Sulastri, 2018). Melalui sistem adat basandi syarak-syarak basandi kitabullah (Adat et al., n.d.) masyarakat Minangkabau memiliki hubungan yang harmonis dengan alam sekitarnya. Mempelajari hal ini dapat membantu memahami pentingnya menjaga kelestarian alam dan memanfaatkannya secara bijak. Kearifan lokal budaya sangat penting untuk dijaga dan dilestarikan. Sayangnya, dalam kurikulum pendidikan formal di Sumatera Barat pada tahun 2013, mata pelajaran Budaya Alam Minangkabau telah kehilangan pentingnya kearifan lokal budayanya. Hal ini sangat perlu diperhatikan karena kehilangan ini dapat menyebabkan identitas dan nilai-nilai budaya masyarakat Minangkabau makin hilang (Illahi et al., 2024). Kurikulum muatan lokal Keminangkabauan adalah inisiatif yang bertujuan untuk memperkenalkan dan mengajarkan nilai-nilai budaya Minangkabau kepada siswa (Salsabila, 2024). Salah satu materi penting dalam kurikulum ini adalah Sumbang Duo Baleh. Sumbang Duo Baleh adalah merupakan salah satu budaya masyarakat Minangkabau, di dalamnya termuat dua belas ketentuan dan larangan yang wajib ditaati oleh setiap perempuan Minang seperti sumbang duduak, sumbang tagak, sumbang jalan, sumbang kato, sumbang caliak, sumbang makan, sumbang pakai, sumbang karajo, sumbang tanyo, sumbang jawek, sumbang bagaua, sumbang kurenah (Nova, 2018), aturan yang dua belas ini memuat etika dan norma sosial yang menjadi pedoman dalam kehidupan masyarakat Minangkabau.
Kenakalan remaja (Taufik Muhamad, Hyangsewu Pandu, 2020), khususnya di kalangan perempuan, merupakan permasalahan sosial yang cukup kompleks dan sering kali menjadi perhatian utama masyarakat. Meskipun lebih sering dikaitkan dengan remaja laki-laki, fenomena ini juga semakin melibatkan remaja perempuan, yang menunjukkan adanya perubahan dinamika sosial serta peran gender dalam masyarakat (Efendi & Ibnu Sholeh, 2023). Kenakalan remaja perempuan dapat mencakup berbagai perilaku menyimpang seperti pergaulan bebas, penyalahgunaan narkoba, tawuran, hingga masalah psikologis seperti gangguan kecemasan atau depresi (Fitrina, 2018). Beberapa faktor yang mempengaruhi kenakalan remaja perempuan antara lain lingkungan keluarga yang kurang mendukung, pengaruh teman sebaya, serta dampak dari perkembangan teknologi dan media social (Andriyani, 2020) . Keluarga yang tidak harmonis atau pola asuh yang kurang baik dapat membuat remaja perempuan mencari pelarian atau perhatian di luar rumah (Rochaniningsih, 2014).
Di sisi lain, pengaruh teman sebaya, yang sering kali terlibat dalam perilaku negatif, dapat memperburuk situasi (Nova, 2024). Selain itu, kemajuan teknologi dan media sosial juga memberi dampak besar, di mana remaja perempuan kerap terpapar pada konten yang tidak sesuai dengan norma dan etika (Takdir & Fauziah, 2024), yang bisa mendorong mereka untuk terlibat dalam perilaku yang merugikan diri mereka. Faktor sosial dan ekonomi, seperti kesulitan ekonomi keluarga (Gilbert, 2000), juga turut mempengaruhi keputusan remaja perempuan dalam mencari pengakuan atau materi, yang sering kali mengarah pada keterlibatan dalam aktivitas yang tidak sehat. Dampak dari kenakalan remaja perempuan sangat luas, mempengaruhi perkembangan psikologis (R. O. A. Putri et al., 2024), hubungan sosial, dan prestasi akademik mereka (A. P. Putri, 2023). Oleh karena itu, penanganan masalah ini membutuhkan perhatian yang lebih serius, baik dari keluarga, masyarakat, maupun pemerintah, untuk menciptakan solusi yang mendukung pembentukan karakter dan kesejahteraan remaja perempuan (Fitrina, 2022)
Materi sumbang duo baleh ini tidak hanya mengajarkan siswa tentang aturan-aturan adat, tetapi juga nilai-nilai seperti gotong royong, rasa hormat, dan tanggung jawab social (Sulistyati, n.d.) Penerapan kurikulum muatan lokal Keminangkabauan dengan materi Sumbang Duo Baleh di SMA Negeri Kota Payakumbuh diharapkan dapat memberikan pemahaman mendalam kepada siswa tentang budaya mereka sendiri. Melalui pembelajaran yang kontekstual dan interaktif, siswa dapat menginternalisasi nilai-nilai tersebut dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini penting untuk membentuk generasi muda yang tidak hanya memiliki pengetahuan tentang budaya mereka, tetapi juga bangga dan mampu melestarikannya. Penelitian ini fokus pada implementasi kurikulum muatan lokal Keminangkabauan, khususnya materi Sumbang Duo Baleh, di SMA Negeri Kota Payakumbuh. Diharapkan penelitian ini dapat memberikan gambaran yang jelas mengenai efektivitas kurikulum tersebut, serta tantangan dan peluang yang dihadapi dalam upaya melestarikan budaya Minangkabau melalui pendidikan formal.
METHOD
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif untuk mengeksplorasi (Subandi, 2011) implementasi kurikulum muatan lokal Keminangkabauan, khususnya materi Sumbang Duo Baleh, di SMA Negeri Kota Payakumbuh. Pendekatan kualitatif deskriptif ini digunakan untuk memahami fenomena secara mendalam dan kontekstual, dalam pengumpulan data dilakukan wawancara mendalam dengan guru yang mengajarkan materi Sumbang Duo Baleh, kepala Sekolah dan siswa, bertujuan untuk mendapatkan perspektif tentang pengajaran, pemahaman siswa terhadap materi juga tantangan yang dihadapi. Selanjutnya dilakukan observasi langsung dalam aula dan kelas terhadap proses pengajaran materi Sumbang Duo Baleh untuk melihat metode pengajaran guru, partisipasi siswa. Selanjutnya adanya dokumentasi dan mengumpulkan dokumen seperti silabus, RPP, dan materi ajar untuk memahami alur seerta struktur isi pada kurikulum. Terakhir dilakukan analisis data dan validitas dan reliabilitas yaitu Menggunakan teknik triangulasi untuk membandingkan data dari berbagai sumber dan memastikan validitas dan reliabilitas. Feedback dari partisipan juga digunakan untuk memastikan interpretasi yang akurat.
FINDINGS AND DISCUSSION
FINDINGS
1. Penerapan Kurikulum Muatan Lokal Keminangkabauan di SMA Negeri Kota Payakumbuh
Penelitian menunjukkan bahwa persiapan dan perencanaan kurikulum muatan lokal Keminangkabauan dilakukan dengan baik. Para guru yang terlibat telah mendapatkan pelatihan khusus serta materi ajar yang lengkap untuk mengajarkan Sumbang Duo Baleh. Metode pengajaran yang diterapkan bersifat interaktif dan kontekstual, seperti adanya pelatihan materi Sumbang Duo Baleh yang di adakan oleh Dinas Pendidikan, hal ini dilaksanakan sebelum adanya peraturan Gubernur tentang Muatan Lolak, juga dilakukan pelatihan atau seminar guru yang berkaitan Sumbang Duo Baleh setelah adanya peraturan Gubernur, diadakan bersama Niniak Mamak, Alim Ulamo, Cadiak Pandai, Bundo Kanduang, serta praktisi budaya dan pegiat budaya. Guru menggunakan berbagai pendekatan seperti cerita rakyat, permainan tradisional, diskusi kelompok, dan kegiatan praktik langsung untuk membantu siswa memahami materi Sumbang Duo Baleh. Siswa menunjukkan antusiasme tinggi dalam mengikuti pelajaran. Mereka berpartisipasi aktif dalam kegiatan kelas dan menunjukkan pemahaman yang baik tentang nilai-nilai yang diajarkan dalam Sumbang Duo Baleh.
- Pemahaman dan Internaliasi Nilai-Nilai Budaya
Siswa memahami nilai-nilai utama yang terkandung dalam Sumbang Duo Baleh seperti gotong royong, rasa hormat, dan tanggung jawab social (Fitrina, 2018). Mereka mampu mengaitkan konsep-konsep ini dengan kehidupan sehari-hari mereka. Hasil observasi menunjukkan bahwa siswa tidak hanya memahami nilai-nilai tersebut, tetapi juga mulai menerapkannya dalam interaksi sehari-hari. Contoh penerapan tersebut termasuk kerja sama dalam tugas kelompok, sikap saling menghargai antar teman, dan partisipasi aktif dalam kegiatan sekolah. Juga menerapkan aturan yang dua belas dalam Sumbang Duo Baleh seperti yang perempuan (duduak) duduk tidak lagi bersila justru berusaha untuk bersimpuh, (takak) berdiri yang biasanya suka di pintu sekarang telah mulai untuk tidak menghalangi orang yang keluar masuk di pintu, (jalan) berjalan yang biasanya terdengar krincingan gelang kaki, semenjak dibuka maka tidak terdengar lagi, bahkan dalam berjalan telah mulai tidak menghentak kan kaki terlalu keras, (kato) berkata sudah mulai beransur-ansur menjaga lisan, tidak berkata yang tidak ada ujungnya, juga tidak berbicara yang tidak menyakitkan hati orang yang mendengarkannya, (caliak) begitu juga dengan cara melihat, tidak semuanya yang harus dilihat dengan jelas, apalagi melihat lawan jenis, berusaha menjaga pandangan agar tidak terjadi masalah ataupun fitnah, makan begitu juga pada sumbang makan telah berusaha tidak berbunyi (bacapak) sudah mulai meminta izin terlebih dahulu sebelum memakan apa yang akan dimakan, selanjutnya sumbang pakai biasanya siswa suka memakai pakaian yang ketat, dan jilbab yang transparan, sekarang semenjak berlakunya kewajiban untuk memakai baju basiba(Siba Basiba.Pdf, n.d.) di Sekolah telah mulai untuk memakai pakaian perempuan dengan sempurna, menutup aurat. sumbang karajo dalam kerja ini dalam ruangan kelas kelihatan bahwa perempuan itu tidak melakukan pekerjaan yang biasa dilakukan oleh laki-laki, walau tidak membahas tentang kondisi siswa di luar Sekolah, namun ini juga berkaitan sedikit, hal ini sesuai dengan keadaan ekonomi masing-masing siswa. Lain halnya bila sumbang tanyo ditanyakan pada tidak tempatnya, contohnya saja saat ada salah satu siswa yang sakit, maka terkadang terjadi candaan yang tidak pada tempatnya, sepeti “masih hidup, dan orangtu punya sakit yang sama telah dahulu meninggal, jadi setelah siswa mendapatkan materi sumbang duo baleh siswa akan berusaha mengubah candaan mereka dengan hati-hati, bila nanti candaan itu terjadi pada mereka masing-masing, sumbang jawek kebiasaan menjawab ala kadarnya sering menjadi masalah siswa satu lainnya, seperti ma tau wak, wak lalok, dengan materi yang telah didapatkan maka siswa berusaha untuk menjawab semampunya yang tidak menyinggung hati siswa lainnya, selanjutnya pada sumbang bagaua seorang siswi sering menganggap berteman dengan laki-laki itu adalah hal biasa, laki-laki dan perempuan itu berbeda, baik dari segi fisik, kekuatan, daya pikir, kemampuan serta aurat yang harus di tutupi, berbedanya laki-laki dan perempuan terlihat pada ayat Al-Qur’an Surah Al-Imran ayat 36:
"فَلَمَّا وَضَعَتْهَا قَالَتْ رَبِّ إِنِّي وَضَعْتُهَا أُنثَىٰ وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا وَضَعَتْ وَلَيْسَ ٱلذَّكَرُ كَٱلْأُنثَىٰ ۖ وَإِنِّي سَمَّيْتُهَا مَرْيَمَ وَإِنِّيٓ أُعِيذُهَا بِكَ وَذُرِّيَّتَهَا مِنَ ٱلشَّيْطَٰنِ ٱلرَّجِيمِ"
“Maka tatkala isteri ‘Imran melahirkan anaknya, dia pun berkata: 'Ya Tuhanku, sesungguhnya aku melahirkannya seorang anak perempuan; dan Allah lebih mengetahui apa yang dilahirkannya itu; dan anak laki-laki tidaklah seperti anak perempuan. Sesungguhnya aku telah menamai dia Maryam, dan aku mohon perlindungan untuknya serta keturunannya kepada (pemeliharaan) Engkau daripada syaitan yang terkutuk”
Ayat ini menunjukkan bahwa dalam pandangan Islam, terdapat perbedaan antara laki-laki dan perempuan. Namun, perlu diingat bahwa perbedaan ini bukanlah alasan untuk mendiskriminasi salah satu pihak, melainkan menunjukkan bahwa keduanya memiliki keistimewaan dan peran masing-masing yang saling melengkapi dalam kehidupan.
Sumbang kurenah yang biasanya suka berbisik-bisik di keramaian, saat dikeramaian jangan menutup hidung, serta canda gurauan tidak melebihi kapasitas seorang siswa. Semampunya saja, sewajarnya saja, dan ditekankan pada kehati-hatian.
- Tantangan dalam Penerapan
Salah satu tantangan utama yang dihadapi adalah keterbatasan waktu dalam jadwal sekolah untuk mengajarkan muatan lokal secara mendalam. Tantangan terbesar terdapat pada peran guru yang mengajarkan materi Sumbang Duo Baleh, guru-guru yang mengajarkan materi Sumbang Duo Baleh bukanlah berasal dari bidang studi kebudayaan, sebagian guru berlatar belakang pendidikan ada yang bidang studi Bahasa Inggris, Matematika, Bahasa Indonesia, dan Kimia, jadi dalam sistim pengajaran terkendala baik dalam penyampaian maupun mencari bahan yang dirasa bisa diterima oleh siswa. Tidak semua siswa memiliki minat yang sama terhadap materi budaya, sehingga guru perlu berupaya ekstra untuk menjaga keterlibatan dan minat siswa.
DISCUSSION
Metode pengajaran yang interaktif dan kontekstual terbukti efektif dalam membantu siswa memahami dan menginternalisasi nilai-nilai budaya Minangkabau. Penggunaan cerita rakyat dan permainan tradisional sebagai alat bantu pengajaran memberikan konteks nyata bagi siswa, sehingga mereka lebih mudah memahami dan mengingat nilai-nilai yang diajarkan. Guru berperan sebagai fasilitator yang membantu siswa menghubungkan nilai-nilai budaya dengan kehidupan sehari-hari mereka. Kemampuan guru untuk menciptakan lingkungan belajar yang inklusif dan menarik sangat berkontribusi pada keberhasilan program ini. Pelatihan khusus yang diberikan kepada guru sebelum penerapan kurikulum muatan lokal Keminangkabauan sangat penting. Pelatihan ini memastikan bahwa guru memiliki pemahaman yang kuat tentang materi dan metode pengajaran yang efektif, sehingga mereka dapat mengajarkan Sumbang Duo Baleh dengan percaya diri dan kompeten Penerapan kurikulum muatan lokal Keminangkabauan dengan materi Sumbang Duo Baleh berhasil meningkatkan kesadaran budaya siswa. Siswa menjadi lebih bangga terhadap warisan budaya mereka dan menunjukkan minat yang lebih besar dalam mempelajari dan melestarikan budaya Minangkabau.
Kedua belas sumbang yang disebutkan di atas mengandung nilai-nilai pendidikan (Banda, 2016). Beberapa nilai pendidikan yang dapat diambil dari sumbang tersebut adalah sebagai berikut:
1. Kesadaran: Perempuan Minangkabau harus sadar akan hal-hal yang tidak pada tempatnya dalam berbagai aspek kehidupan seperti duduk, berjalan, dan berbicara, agar setiap gerak kehidupan mereka diterima oleh masyarakat dan menjaga kemuliaan adat.
2. Menghargai Diri dan Lingkungan: Perempuan Minangkabau harus menghargai diri sendiri dan lingkungan, mensyukuri keberadaan tubuh mereka, menjaga aurat, dan bersikap baik kepada orang lain. Sikap saling menghargai ini penting agar mereka tidak tersisih dalam pergaulan dan dihormati oleh orang lain.
3. Melindungi Diri: Perempuan Minangkabau harus melindungi diri dari hal-hal yang mendatangkan kehinaan dengan menjaga pakaian, cara bergaul, berbicara, dan tindak-tanduk mereka. Melindungi aurat sangat penting karena dapat mencegah niat jahat laki-laki.
4. Nilai Malu: Rasa malu harus menjadi bagian dari diri perempuan Minangkabau. Mereka harus malu jika perbuatan dan pemikiran mereka tidak sesuai dengan adat istiadat, dan menghindari penyebab malu agar tidak menurunkan martabat mereka.
5. Etika Bergaul: Perempuan Minangkabau harus memiliki etika bergaul yang baik, menjaga tutur kata dan perilaku, serta pandai memilih teman untuk menjaga hubungan yang bermanfaat.
6. Hormat Menghormati: Perempuan Minangkabau harus memiliki sifat hormat dalam setiap aspek kehidupan, menghormati orang lain berarti menghormati diri sendiri, dan mengembangkan sikap hormat ini dengan menghindari hal-hal yang janggal.
7. Sopan Santun: Perempuan Minangkabau harus memiliki sopan santun, yang merupakan pakaian kebesaran mereka, dengan menghindari sumbang berbicara dan sumbang kurenah.
Nilai-nilai di atas membantu perempuan Minangkabau mempertahankan keistimewaan mereka sebagai pewaris budaya matrilineal Minangkabau. Budaya Minangkabau mendidik perempuan agar tidak berbuat sumbang dengan belajar dari alam.
Rekomendasi untuk pengembangan kurikulum dalam mengatasi tantangan keterbatasan waktu, sekolah dapat mempertimbangkan integrasi nilai-nilai budaya ke dalam mata pelajaran lain, sehingga siswa dapat terus belajar dan menginternalisasi nilai-nilai budaya Minangkabau dalam berbagai konteks pembelajaran.
CONCLUSION
Kedua belas sumbang yang disebutkan mengandung berbagai nilai pendidikan yang penting bagi perempuan Minangkabau. Nilai-nilai ini meliputi kesadaran akan hal yang pantas, penghargaan terhadap diri sendiri dan lingkungan, kemampuan melindungi diri, rasa malu yang positif, etika bergaul yang baik, sikap hormat menghormati, serta sopan santun, dengan menginternalisasi nilai-nilai ini, perempuan Minangkabau dapat mempertahankan keistimewaan dan martabat mereka sebagai pewaris budaya matrilineal yang unik. Pendidikan menurut adat Minangkabau secara umum adalah berguru kepada alam, yang menekankan pembelajaran dari pengalaman dan lingkungan sekitar. Memperkenalkan dan melestarikan budaya Minangkabau di kalangan generasi muda untuk menjaga identitas budaya, mengajarkan 12 etika dan aturan adat yang ada di Minangkabau yang mencakup sopan santun dan etika pergaulan, dilakukan melalui ceramah, diskusi, dan praktik langsung untuk pemahaman dan penerapan nilai-nilai adat, serta membentuk karakter siswa menjadi lebih sopan dan menghargai etika sosial. Kurangnya sumber daya pengajaran diatasi dengan bekerja sama dengan tokoh adat dan ahli budaya. Secara keseluruhan, kurikulum ini terkusus pada Sumbang Duo Baleh penting untuk pelestarian budaya dan pembentukan karakter siswa meski menghadapi beberapa tantangan.
REFERENCES
Al-Hufaz. (2018) Al-Qur’an Hafalan Mudah Metode 5 Waktu Hafal 1 Halaman New Edition Bandung: Cordoba.
Adat, I., Syarak, D. A. N., Tinggalan, P., Surau, D. I., Nagari, N., & Tanah, B. (n.d.). Ave at : 71–82.
Andriyani, J. (2020). Peran Lingkungan Keluarga Dalam Mengatasi Kenakalan Remaja. At-Taujih : Bimbingan Dan Konseling Islam, 3(1), 86. https://doi.org/10.22373/taujih.v3i1.7235
Banda, M. M. (2016). Teori Modal dalam Pewarisan Tradisi Lisan. In Prosiding Seminar Nasional: Sastra, Budaya, dan Perubosial. lppm@petra.ac.id
Bashori, A. M. A. (2021). Kebijakan Kurikulum Muatan Lokal Bahasa Dan Sastra Minangkabau Di SD/SMP Kota Pariaman Sebagai Upaya Pelestarian Budaya. Pendidikan Dan Pemikiran, 10(1), 91–105.
Efendi, N., & Ibnu Sholeh, M. (2023). Dinamika Sosial Dalam Proses Pengambilan Keputusan dalam Manajemen Pendidikan Islam. Attanwir : Jurnal Keislaman Dan Pendidikan, 14(2), 45–67. https://doi.org/10.53915/jurnalkeislamandanpendidikan.v14i2.421
Gilbert, S. F. (2000). Developmental Biology, 6th edition. Sinauer Associates, 2(1), 40–45.
ilham hadi, hadi purwanto, annisa miftahurrahmi, fani marsyanda, giska rahma. (2019). Krisis Moral Dan Etika Pada Generasi Muda Indonesia. Angewandte Chemie International Edition, 6(11), 951–952., 2, 233–241.
Illahi, R. K., Yunita, R., Khadijah, K., Dirsa, A., & Wahyuni, A. S. (2024). Optimalisasi Mata Pelajaran Muatan Lokal pada Kurikulum Merdeka (Studi pada Mata Pelajaran Keminangkabauan, Sumatera Barat). Edukatif : Jurnal Ilmu Pendidikan, 6(4), 3480–3492. https://doi.org/10.31004/edukatif.v6i4.7367
Luthfianda, A., & Sufriadi, D. (2024). Peran Pemuda dalam Melestarikan Adat Istiadat. 1(1), 1–9.
Malik, R. (2016). Ikatan Kekerabatan Etnis Minangkabau dalam Melestarikan Nilai Budaya Minangkabau di Perantauan sebagai Wujud Warga NKRI.
Putri, A. P. (2023). Disorganisasi Keluarga Mempengaruhi Perkembangan Kepribadian Anak. Prosiding Seminar Nasional Bahasa, Sastra Dan Budaya (SEBAYA) Ke-3, 58–67.
Putri, R. O. A., Sholikhah, D. M., & ... (2024). Menjelajahi Pola Konflik Keluarga Dalam Kenakalan Remaja: Tinjauan Literatur Dalam Psikologi Kepolisian. … : Indonesian Journal of …, 2, 256–267. http://journal.csspublishing.com/index.php/ijm/article/view/902%0Ahttps://journal.csspublishing.com/index.php/ijm/article/download/902/672
Rochaniningsih, N. S. (2014). Dampak Pergeseran Peran Dan Fungsi Keluarga Pada Perilaku Menyimpang Remaja. Jurnal Pembangunan Pendidikan: Fondasi Dan Aplikasi, 2(1), 59–71. https://doi.org/10.21831/jppfa.v2i1.2618
Salsabila, P. (2024). Analisis Kebutuhan Pengembangan Buku Ajar Muatan Lokal Tokoh-Tokoh Ulama Minangkabau Abad 19. 2(2), 1–8.
SIBA BASIBA.pdf. (n.d.).
Subandi. (2011). Deskriptif Kualitatif sebagai Salah Satu Metode Penelitian Pertunjukan. Harmonia, 11(2), 173–179. https://media.neliti.com/media/publications/62082-ID-deskripsi-kualitatif-sebagai-satu-metode.pdf
Sulastri, T. (2018). Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Dalam Mendeskripsikan Melalui Model Pembelajaran Kooperative Tipe Time Token Pada Siswa Kelas Viii . 1 Smpn 4 Pasaman. Jurnal Managemen Pendidikan, 03(02), 331–342.
Sulistyati, M. (n.d.). Male order dalam konstruksi seksualitas perempuan minangkabau. 157–169. https://doi.org/10.2307/3350620
Sutria, D. (2019). Implementasi Metode Batu Pijar Dalam Pembelajaran Matematika Untuk Meningkatkan Aktifitas Dan Hasil Belajar Siswa Sd Negeri 47 Kota Jambi. Jurnal Pesona Dasar, 7(2), 1–9. https://doi.org/10.24815/pear.v7i2.14753
Takdir, H., & Fauziah, R. (2024). Analisis Dampak Media Sosial Terhadap Etika Remaja.
Taufik Muhamad, Hyangsewu Pandu, A. N. I. (2020). Pengaruh Faktor Religiusitas Terhadap Perilaku Kenakalan Remaja di Lingkungan Masyarakat. Jurnal Rontal Keilmuan Pancasila Dan Kewarganegaraan, 6(1), 91–102. https://jurnal.stkippgritulungagung.ac.id/index.php/rontal/article/view/1637
Thulus Gajay Syahbana, Muhammad Ridwan Efendi, & Darul Ilmi. (2023). Minangkabau Dalam Pendidikan Kota Padang Panjang. Tabsyir: Jurnal Dakwah Dan Sosial Humaniora, 5(1), 174–184. https://doi.org/10.59059/tabsyir.v5i1.868
Nova, (2018). Sumbang Padusi. Bukittinggi: Ajrie Publisher.
Nova, (2018), Mengenal Sumbang Nan Duo Baleh. SMA Negeri 1 Bukittinggi
Nova, (2019), Sumbang Duo Baleh Masuk Pesantren Cahaya Islam. Yayasan Cahaya Islam Payakumbuh
Nova, (2019), Sumbang Duo Baleh dan 5 Sifat Padusi Minang yang Harus di Hindari. Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS), SMA Negeri 1 Bukittinggi
Nova, (2020), Belajar Sumbang Duo Baleh untuk Santriwan dan Santriwati. Pondok Pesantren Al-Kautsar Sarilamak Tanjung Pati
Nova, (2023). Sumbang Duo Baleh dalam Perspektif Al-Qur’an Tinjauan Tematik Tafsir Al-Azhar. Skripsi STAI Darul Qur’an Payakumbuh
Nova, (2024). Sosialisasi Sumbang Duo Baleh, untuk Ketua Osis dan Anggota untuk tingkatan SLTP, MTsN Se-Kabupaten Lima Puluh Kota. Dinas Pustaka dan Kearsipan Kabupaten Lima Puluh Kota
Nova, (2024). Sumbang Duo Baleh Lewat Pesantren Ramadhan untuk Siswa-Siswi SMA Islam Raudhatul Jannah Boarding School Payakumbuh. 31 Maret. Yayasan Raudhatul Jannah Payakumbuh
Fitrina, Yulia (2018), Internalisasi Pendidikan Karakter dalam Novel Sumbang Padusi Karya Nova dalam Perspektif Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah. Laporan Penelitian Balai Bahasa Provinsi Sumatera Barat
Fitrina, Yulia.(2022). Strategi Pembelajaran Bahasa, Sastra, dan Literasiinternalisasi Nilai Budaya: ‘Sumbang Duo Baleh’ Dalam Novel Sumbang Padusi Karya Nova Melalui Metode Diskusi dan Demonstrasi. Yokyakarta: Diandra

Post a Comment