Oleh: Misrayeti, M.Pd
Guru TK Islam Raudhatul Jannah
Literasi
merupakan fondasi utama dalam proses pendidikan seumur hidup. Bukan hanya
sekadar kemampuan membaca dan menulis, literasi mencakup kemampuan memahami,
menggunakan dan merefleksikan informasi secara kritis untuk mencapai tujuan,
mengembangkan pengetahuan dan berpartisipasi penuh dalam masyarakat. Meskipun
Gerakan Literasi Sekolah (GLS) seringkali diidentikkan dengan jenjang
pendidikan dasar dan menengah, namun sesungguhnya penanaman kecintaan dan
kebiasaan literasi harus dimulai sejak usia dini yaitu di jenjang PAUD.
Seperti yang
kita ketahui bahwa Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) disebut juga fase emas (golden age) di mana otak anak sedang berkembang dengan
pesat, sehingga menjadi waktu yang paling strategis untuk meletakkan
dasar-dasar literasi. Penerapan prinsip-prinsip dan semangat dari Gerakan
Literasi Sekolah perlu diadaptasi dan diintegrasikan secara holistik dalam
lingkungan PAUD. Adaptasi konsep GLS tersebut dapat diwujudkan melalui kegiatan
bermain yang menyenangkan, serta peran krusial seluruh elemen sekolah dan orang
tua dalam membentuk anak-anak yang memiliki budaya literasi kuat sejak usia
prasekolah.
Literasi
di PAUD tidak hanya sebatas kemampuan membaca, menulis, dan berhitung (calistung)
yang diajarkan secara individu, klasikal dan terpisah. Namun literasi dimaknai
secara luas sebagai kemampuan dasar
yang diperlukan anak untuk memahami dunia, mengembangkan rasa ingin tahu,
berpikir kritis, dan menggunakan kemampuan tersebut dalam kegiatan sehari-hari,
yang utamanya dilakukan melalui bermain.
Di TK Islam Raudhatul Jannah gerakan
literasi sekolah sudah merupakan program utama dimana penataan kelas,
pelaksanaan pembelajaran dan sarana pendukung pembelajaran dirancang dengan
memperhatikan tiga pilar utama GLS yaitu literasi dasar, literasi akademik, dan
literasi fungsional. Ketiga pilar ini diterjemahkan menjadi :
- Literasi Dasar (Mengenal
Lingkungan Berbahasa)
Implementasinya dengan menciptakan
lingkungan kaya teks, melalui pajangan huruf, angka, gambar berlabel, sudut
baca yang menarik dan adanya perpustakaan sekolah, serta kunjungan ke
Pepustakaan Umum Daerah Kota Payakumbuh.
- Literasi Akademik (Keterampilan
Pra-membaca dan Pra-menulis)
Implementasinya dengan melakukan kegiatan
mendengarkan cerita, membacakan cerita, mendiskusikan gambar, bermain peran,
dan latihan motorik halus yang menjadi prasyarat untuk menulis.
- Literasi Fungsional (Memahami
Dunia)
Implementasinya dengan menggunakan
literasi dalam konteks sehari-hari, seperti mengikuti urutan instruksi, membaca
resep saat bermain masak-masakan, memahami rambu-rambu di jalan atau
symbol-simbol lainnya. Disini juga dikenalnya jenis literasi lainnya yaitu
literasi numerasi, literasi sains, literasi digital, literasi finansial dan
literasi budaya dan sosial, yang dikenalkan melalui kegiatan main di
sentra-sentra pembelajaran yang telah disediakan.
Disamping kegiatan di sekolah, TK
Islam Raudhatul Jannah juga menekankan peran guru dan orang tua yang sangat
strategis dalam mengembangkan gerakan literasi sekolah, peran tersebut dapat
dilihat sebagai berikut :
1.
Peran guru sebagai teladan Literat
Guru harus menjadi teladan dengan
menunjukkan kecintaan pada buku dan membaca. Guru yang antusias dalam
bercerita, menggunakan kosa kata yang kaya dan konsisten menciptakan kegiatan
literasi akan menularkan semangat tersebut kepada anak didiknya. Guru juga
bertindak sebagai fasilitator yang mengamati dan menyesuaikan materi dengan
minat dan tingkat perkembangan literasi setiap anak.
2. Keterlibatan Orang Tua
Literasi adalah tanggung jawab
bersama, karena itu sekolah perlu memberitahukan kepada orang tua tentang
bagaimana menciptakan lingkungan literat di rumah. Disini bisa berupa peminjaman
buku perpustakaan sekolah kepada orangtua juga selain anak dan mendorong orang
tua untuk sering berinteraksi verbal dengan anak, membacakan buku cerita yang
dipinjam anak di perpustakaan sekolah, bertanya tentang apa yang kegiatan yang
mereka lakukan hari ini, atau bernyanyi bersama anak.
Dengan
mengadaptasi GLS melalui pendekatan bermain yang terstruktur dan didukung oleh
lingkungan yang kaya akan stimulasi literasi, TK Islam Raudhatul Jannah dapat
secara efektif meletakkan dasar yang kokoh bagi masa depan literasi anak,
membentuk mereka menjadi pembelajar seumur hidup yang kritis dan kreatif.
Gerakan
Literasi Sekolah di TK Islam Raudhatul Jannah bukan hanya sekadar program
semata, melainkan realisasi program yang selalu ingin diwujudkan demi
mempersiapkan generasi pembelajar yang cakap dan berdaya. Melalui model
penataan lingkungan main Sentra, dengan pembelajaran yang menyenangkan dan
terintegrasi, anak-anak menemukan bahwa literasi bukanlah beban melainkan
adalah sebuah petualangan yang menyenangkan.
Upaya ini membutuhkan komitmen bersama dimana peran guru sebagai fasilitator yang
kreatif, keterlibatan orang tua sebagai mitra utama di rumah, dan penyediaan
lingkungan yang kaya akan bahan bacaan dan kegiatan eksplorasi. Dengan
menanamkan enam literasi dasar yaitu baca
tulis, numerasi, sains, digital, finansial, serta budaya dan kewargaan sejak
usia dini, berarti kita sedang meletakkan fondasi yang kokoh. Fondasi inilah
yang akan mendukung kesuksesan akademis anak di jenjang berikutnya dan
membentuk mereka menjadi individu yang kritis,
kreatif, dan adaptif dalam menghadapi tantangan dunia masa depan.

Post a Comment