Kannov

GURU MENULIS: LUANG WAKTU BELAJAR SEHARI UNTUK JADI INVESTASI KOMPETENSI

January 06, 2026 Kannov Publishing

 

 Oleh: Gustina, M.Pd. 

(SD Negeri 02 Payakumbuh) 

 


Dunia pendidikan terus bergerak. Perubahan demi perubahan dilakukan bukan untuk membebani para guru, melainkan untuk menjawab tantangan zaman. Salah satu kebijakan terbaru dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi yang tengah menjadi perbincangan adalah wajibnya guru meluangkan satu hari dalam sepekan untuk belajar. Bagi sebagian orang, ini mungkin terdengar sebagai tambahan tugas. Namun bagi saya, sebagai guru, Plt Kepala Sekolah SD Negeri 02 Payakumbuh, sekaligus Ketua kelompok kerja guru (KKG) Gugus 1, kebijakan ini adalah langkah strategis untuk menjaga nyala semangat pembelajaran sepanjang hayat. 

Guru sejatinya adalah pembelajar. Jika murid dituntut terus berkembang, maka gurunya pun harus lebih dulu bergerak. Bagaimana mungkin seorang guru dapat menginspirasi muridnya untuk berubah, bila ia sendiri stagnan? Maka, kebijakan belajar sehari dalam sepekan bukanlah beban tambahan, melainkan investasi kompetensi bagi tenaga pendidik. Menyikapi edaran tersebut, kami di SD Negeri 02 Payakumbuh bersama KKG Gugus 1 langsung bergerak cepat. 

Dalam waktu singkat, kami telah mengoordinasikan dan mengimplementasikan hari belajar guru melalui kegiatan KKG terjadwal setiap minggu. Ini menjadi ruang aktualisasi guru untuk saling berbagi praktik baik, mendiskusikan pendekatan pembelajaran mendalam/ deep learning, pembelajaran berdiferensiasi, literasi, numerasi, serta strategi merdeka belajar lainnya. Pada kegiatan KKG terakhir ini, kami membahas secara khusus pembelajaran deep learning, yaitu pendekatan pembelajaran bermakna yang mendorong murid untuk berpikir kritis, reflektif, dan mengaitkan pengetahuan dengan kehidupan nyata. 

Guru-guru berdiskusi mengenai bagaimana menyusun tujuan pembelajaran yang tajam, merancang aktivitas yang memantik pemikiran mendalam, serta mengembangkan asesmen yang mendorong pemahaman, bukan sekadar hafalan. Kegiatan ini membuka wawasan baru dan menginspirasi para guru untuk mengubah cara mereka mengelola kelas. Sebagai Plt Kepala Sekolah dan Ketua KKG, saya melihat kebijakan ini sebagai peluang emas. Sekolah kini memiliki ruang untuk membangun budaya belajar di antara guru. 

Kepala sekolah bisa memfasilitasi waktu belajar bersama, mendorong kolaborasi antara guru lintas kelas, hingga menghubungkan sekolah dengan narasumber dan komunitas pendidikan yang lebih luas. Tentu, tantangannya tidak kecil. Di beberapa daerah, beban administratif masih tinggi, akses ke pelatihan belum merata, dan belum semua guru memiliki kebiasaan belajar mandiri. Tapi justru di sinilah peran pimpinan sekolah dan ketua KKG menjadi penting untuk menjadi penyulut semangat dan fasilitator perubahan. Kita sedang menyongsong pendidikan yang berpihak pada murid. 

Maka, perubahan ini harus dimulai dari gurunya. Sehari belajar dalam sepekan bukan tujuan akhir, melainkan langkah awal membangun ekosistem pendidikan yang hidup dan reflektif. Jika setiap guru di Indonesia bersedia meluangkan satu hari untuk belajar, membenahi praktik, dan berbagi, saya yakin bukan hanya kualitas guru yang meningkat, tapi juga semangat di ruang-ruang kelas akan ikut tumbuh. Karena guru yang belajar, akan melahirkan murid yang merdeka.

 

Catatan: Tulisan ini sudah terbit di Laman Guru Padang Ekspres 

Foto: ilustrasi dan hak milik  

Bagikan Artikel Ini

Rekomendasi

Terpopuler