Memastikan kebersihan dan keamanan makanan di lingkungan sekolah adalah prioritas bagi banyak pihak, terutama karena semakin banyak orang menyadari pentingnya sanitasi untuk melindungi anak-anak usia sekolah. Kantin sekolah, sebagai tempat utama siswa membeli makanan selama belajar, harus mematuhi standar kesehatan dan kebersihan yang ketat. Kementerian Kesehatan RI berulang kali menegaskan bahwa kantin sekolah merupakan lokasi kunci untuk mencegah penyakit menular seperti diare, tipes, dan keracunan makanan. Oleh karena itu, pengelolaan makanan di sekolah tidak bisa dianggap remeh. Pengelola dan penjaga kantin memegang peranan penting dalam memastikan makanan yang dijual tidak hanya lezat, tetapi juga aman dikonsumsi. Standar kebersihan dasar yang harus dipatuhi meliputi kebersihan diri penjaga kantin, peralatan masak, dan area penyimpanan makanan.
Salah satu hal krusial dalam menyiapkan makanan adalah memastikan bahan mentah tidak bercampur dengan makanan matang. Daging, ikan, atau telur mentah sebaiknya dipisahkan dari nasi, sayuran matang, atau kue, baik saat disimpan maupun diolah. “Kontaminasi silang adalah penyebab umum keracunan makanan,” terang Vivi Leswari, SKM.MKM, Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat dan Pengendalian Penyakit/Pencegahan Dinas Kesehatan Kota Payakumbuh. Ia menambahkan, “Jika talenan, pisau, atau wadah yang dipakai untuk daging mentah langsung digunakan untuk makanan siap saji tanpa dicuci, bakteri seperti Salmonella bisa menyebar.” Selama ini, pengawasan kantin sekolah sebagian besar masih mengandalkan inisiatif internal sekolah atau guru. Padahal, banyak ahli berpendapat bahwa Dinas Kesehatan dan Dinas Pendidikan setempat seharusnya berperan aktif dalam melakukan inspeksi dan pembinaan rutin terhadap pengelola kantin. Penting sekali untuk memiliki regulasi yang mewajibkan setiap sekolah memiliki Standar Operasional Prosedur (SOP) kantin sehat, serta pelatihan wajib bagi para penjaga kantin. Mengingat anak-anak adalah kelompok yang rentan, makanan yang tidak aman dapat berdampak serius pada kesehatan dan prestasi belajar mereka.
Selain membina penjaga kantin, edukasi juga perlu diberikan kepada siswa dan orang tua. Anak-anak harus diajarkan cara memilih makanan yang sehat dan bersih, serta membiasakan cuci tangan sebelum makan. Orang tua juga diimbau untuk tidak hanya memberikan uang jajan, tetapi juga membekali anak dengan pemahaman tentang pentingnya memilih jajanan sehat. Kantin sekolah tidak boleh hanya dianggap sebagai tempat berjualan makanan, melainkan sebagai bagian integral dari sistem pendidikan dan pembinaan anak. Makanan yang mereka konsumsi setiap hari memiliki pengaruh langsung pada tumbuh kembang, daya tahan tubuh, dan konsentrasi belajar.
Kualitas makanan di sekolah dapat meningkat secara signifikan dengan pengawasan yang tepat, pelatihan bagi petugas kantin, serta keterlibatan aktif dari orang tua dan pemerintah. Sekolah yang baik bukan hanya unggul dalam akademik, tetapi juga peduli terhadap apa yang dimakan muridnya, sebuah pernyataan yang menegaskan pentingnya perhatian terhadap asupan makanan anak-anak di lingkungan sekolah. Fakta singkat yaitu penyakit diare pada anak usia sekolah, sekitar 40% di antaranya, disebabkan oleh makanan yang terkontaminasi. Di Indonesia, satu dari tiga kantin sekolah belum memiliki Standar Operasional Prosedur (SOP) keamanan pangan yang memadai. Mencuci tangan dengan sabun dapat mencegah hingga 70% penyakit yang ditularkan melalui makanan.
Oleh:
Novaliza, S.Pd. SD
Guru SDN 02 Payakumbuh

Post a Comment