Pena di Atas Kertas Kusam
Di sebuah beranda tua yang menghadap
ke arah pegunungan, Aris duduk termenung. Di depannya tergeletak sebuah buku
catatan kosong. Ia adalah seorang penulis yang sedang kehilangan kata-kata.
Selama berbulan-bulan, ia mencari tema tentang "Anugerah Terindah dari
Sang Pencipta" untuk kompetisi menulis tingkat nasional.
Ia sempat mengira anugerah itu
adalah kekayaan, maka ia menulis tentang kemewahan—namun jemarinya kaku. Ia
mengira itu adalah ketenaran, namun kalimatnya terasa hambar.
Kehadiran
yang Tak Disadari
Tiba-tiba, aroma kopi tubruk yang
kuat menyeruak. Ibunya datang membawa nampan kecil, meletakkannya dengan
perlahan agar tidak mengganggu lamunan Aris.
"Masih belum ketemu jawabannya,
Ris?" tanya Ibunya lembut. Suaranya sedikit serak dimakan usia, namun
selalu menenangkan.
"Belum, Bu. Aris mau menulis
sesuatu yang megah, yang luar biasa. Tapi sepertinya pikiran Aris buntu,"
jawab Aris sambil menghela napas.
Ibunya tersenyum, lalu duduk di kursi
kayu sebelah Aris. Beliau tidak berkata apa-apa lagi, hanya ikut menatap jingga
yang mulai merekah di ufuk barat. Di kejauhan, terdengar suara tawa anak-anak
desa yang sedang pulang mengaji, langkah kaki petani yang memanggul cangkul,
dan kepakan sayap burung-burung yang kembali ke sarang.
Saat
Cahaya Itu Datang
Tiba-tiba, sebuah embusan angin
sejuk menerpa wajah Aris. Ia melihat ibunya memejamkan mata, menikmati semilir
angin itu dengan senyum tulus. Di saat itulah, Aris menyadari sesuatu yang
selama ini ia abaikan.
Ia melihat guratan keriput di tangan
ibunya—tangan yang telah membesarkannya dengan doa yang tak pernah putus. Ia
merasakan paru-parunya mengembang bebas menghirup oksigen tanpa biaya. Ia
mendengar detak jantungnya sendiri yang masih berirama teratur.
Aris mengambil penanya. Kali ini, ia
tidak ragu. Ia mulai menulis dengan cepat:
"Anugerah terindah dari Sang
Pencipta bukanlah sesuatu yang jatuh dari langit dalam bentuk emas atau
mutiara. Ia tidak selalu berupa panggung megah atau tepuk tangan manusia."
Ia berhenti sejenak, menatap Ibunya,
lalu melanjutkan:
"Anugerah itu adalah kesempatan.
Kesempatan untuk melihat matahari terbit sekali lagi, kesempatan untuk memeluk
orang-orang tercinta, dan napas yang masih mengalir di dada tanpa kita perlu
memintanya. Kita sering terlalu sibuk mengejar 'keajaiban' besar, hingga lupa
bahwa setiap detik keberadaan kita adalah mukjizat yang paling nyata."
Akhir
yang Manis
Sore itu, Aris tidak memenangkan
kompetisi dengan kemewahan kata-kata, melainkan dengan kejujuran rasa. Ia
menyadari bahwa menulis tentang Tuhan dan anugerah-Nya bukan tentang mencari
yang jauh, tapi tentang mensyukuri yang paling dekat.
Malamnya, Aris menutup buku
catatannya. Ia tidak lagi merasa kosong. Baginya, tulisan itu sudah selesai di
dalam hatinya, bahkan sebelum tinta itu kering.

Post a Comment