Kannov

Rileksasi Seorang Penulis

January 04, 2026 Kannov Publishing

 



Pena di Atas Kertas Kusam

Di sebuah beranda tua yang menghadap ke arah pegunungan, Aris duduk termenung. Di depannya tergeletak sebuah buku catatan kosong. Ia adalah seorang penulis yang sedang kehilangan kata-kata. Selama berbulan-bulan, ia mencari tema tentang "Anugerah Terindah dari Sang Pencipta" untuk kompetisi menulis tingkat nasional.

Ia sempat mengira anugerah itu adalah kekayaan, maka ia menulis tentang kemewahan—namun jemarinya kaku. Ia mengira itu adalah ketenaran, namun kalimatnya terasa hambar.

Kehadiran yang Tak Disadari

Tiba-tiba, aroma kopi tubruk yang kuat menyeruak. Ibunya datang membawa nampan kecil, meletakkannya dengan perlahan agar tidak mengganggu lamunan Aris.

"Masih belum ketemu jawabannya, Ris?" tanya Ibunya lembut. Suaranya sedikit serak dimakan usia, namun selalu menenangkan.

"Belum, Bu. Aris mau menulis sesuatu yang megah, yang luar biasa. Tapi sepertinya pikiran Aris buntu," jawab Aris sambil menghela napas.

Ibunya tersenyum, lalu duduk di kursi kayu sebelah Aris. Beliau tidak berkata apa-apa lagi, hanya ikut menatap jingga yang mulai merekah di ufuk barat. Di kejauhan, terdengar suara tawa anak-anak desa yang sedang pulang mengaji, langkah kaki petani yang memanggul cangkul, dan kepakan sayap burung-burung yang kembali ke sarang.

Saat Cahaya Itu Datang

Tiba-tiba, sebuah embusan angin sejuk menerpa wajah Aris. Ia melihat ibunya memejamkan mata, menikmati semilir angin itu dengan senyum tulus. Di saat itulah, Aris menyadari sesuatu yang selama ini ia abaikan.

Ia melihat guratan keriput di tangan ibunya—tangan yang telah membesarkannya dengan doa yang tak pernah putus. Ia merasakan paru-parunya mengembang bebas menghirup oksigen tanpa biaya. Ia mendengar detak jantungnya sendiri yang masih berirama teratur.

Aris mengambil penanya. Kali ini, ia tidak ragu. Ia mulai menulis dengan cepat:

"Anugerah terindah dari Sang Pencipta bukanlah sesuatu yang jatuh dari langit dalam bentuk emas atau mutiara. Ia tidak selalu berupa panggung megah atau tepuk tangan manusia."

Ia berhenti sejenak, menatap Ibunya, lalu melanjutkan:

"Anugerah itu adalah kesempatan. Kesempatan untuk melihat matahari terbit sekali lagi, kesempatan untuk memeluk orang-orang tercinta, dan napas yang masih mengalir di dada tanpa kita perlu memintanya. Kita sering terlalu sibuk mengejar 'keajaiban' besar, hingga lupa bahwa setiap detik keberadaan kita adalah mukjizat yang paling nyata."

Akhir yang Manis

Sore itu, Aris tidak memenangkan kompetisi dengan kemewahan kata-kata, melainkan dengan kejujuran rasa. Ia menyadari bahwa menulis tentang Tuhan dan anugerah-Nya bukan tentang mencari yang jauh, tapi tentang mensyukuri yang paling dekat.

Malamnya, Aris menutup buku catatannya. Ia tidak lagi merasa kosong. Baginya, tulisan itu sudah selesai di dalam hatinya, bahkan sebelum tinta itu kering.

 

Bagikan Artikel Ini

Rekomendasi

Terpopuler